Resensi
Novel Si Dul

Resensi
Novel Si Dul
Indetitas Buku
Judul
Buku :
Si Dul Anak Jakarta
Karya : Aman DT.Madjoindo
Penerbit :Balai Pustaka
Tahun Terbit :14 April 2000
Tebal
Buku : 96 Halaman
Ada lebih 20 buku yang telah dikarang Aman Datuk Madjoindo. Si Doel Anak Betawi ditulis pada tahun1956.
Namun jauh dia sebelumnya telah menulis berbagai cerita lain, di antaranya Menebus dosa (1932), Rusmala Dewi (1932, bersama S. Hardjosoemarto), Sebabnya Rafiah Tersesat (1934, bersama S. Hardjosoemarto), Si Cebol Rindukan Bulan(1934), Perbuatan Dukun (1935), Sampaikan Salamku Kepadanya (1935).
Selain cerita Aman juga menulis karya Melayu lama berbentuk syair dan hikayat. Syair-syairnya antara lain Syair Si Banto Urai (1931) dan Syair Gul Bakawali (1936)
Karya-karya yang berbentuk hikayat adalah Cerita Malin Deman dan Puteri
Bungsu (1932), Cindur Mata (1951), Hikayat Si Miskin (1958), Hikayat Lima Tumenggung (1958).
Abdul Hamid biasa dipanggil
si Dul. Pada suatu hari si Dul sedang bermain dengan Asnah, mereka bermain
masak masakan.Sapii teman Dul yang lain ikut bermain tetapi dia sedang kesal
karena ada yang menggangunya tadi, Sapii adalah anak pemarah,dan ringan tangan.
Sehingga permainan tadi terganggu karena Sapii melampiaskan marahnya di
situ.Asnah pun menangis karena semua mainannya rusak dan akhirnya melempar
Sapii dengan cabai dan lari ke pohon sauh,mata Sapii terasa pedas dia ingin
membalas tetapi dia takut karena asnah membawa pisau.Si Dul yang sedang
menggambil barang dirumahnya itu pun dengar Asnah menangis dam ia mendekatinya
dan bertanya mengapa ia mengangis, Asnah tidak menjawab tetapi ia melihat Sapii
berada di dekat tempatnya bermain tadi dan semua barang berantakan.Akhirnya si
Dul mendekati Sapii dan bertanya mengapa Asnah menangis, tetapi Sapii malah
menantang Si Dul berkelahi. Si Dul pun berpikir badan Sapii yang lebih besar
tidak masalah tetapi dia bersama denga Saari.Akhirnya berkelahilah mereka Sapii
tertinju beberapa kali kemudia meminta bantuan Saari, Saari akan menangkap Si
Dul dari belakang tapi terkena tendangan si Dul anak anak kampung mengerumuni
sambil menyemangati si Dul dan Sapii.Ibu si Dul yang mendengar kegaduhan di
luar rumah akhirnya keluar dan menghentikan perkelahian,anak anak berlari
meninggalkan tempat itu Sapii menatap si Dul dengan penuh napsu ingin berkelahi
sambil berkata "Awas lu! Kalo ketemu nanti gue hajar".Si Dul pulang
kerumah bersama ibunya. Sesampai dirumah si Dul diamandikan ibunya.Setelah
mandi dia tidak boleh keluar rumah. Si Dul bermain sendirian dirumah, meski
pintu pagar terbuka dia tidak berani keluar takut durhaka kepada orang tua.Dia
duduk dan berpikir kalau ketemu Sapii lagi, dia akan memukul perutnya dan membanting
kepalanya sampai makan tanah.Akhirnya dia bermain di halaman rumah tetapi tidak
melewati pagar.Si Dul bermain dengan Asnah dan teman perempuannya yang lain
tidak terasa waktu sudah sore Si Dul harus mengaji.Si Dul mengaji dirumah
engkonnya,Uak Salim biasa ia dipanggil,ia adalah mantan jawara dikampung
sehingga orang takut kepadanaya.Matanya tinggal satu yang kiri tetapi tiada
yang tau kenapa mata yang kanan itu karena setiap ditannya ia pasti
marah.Tetapi setelah matanya tinggal satu ia jadi orang baik mengajar mengaji
anak anak.Meski begitu kadang kadang sedikit keluar juga sifat bengis semasa
mudanya itu.Ia mendapat uang dari sedekah anak anak mengaji, sedekahnya itu
dibelinya kambing sehingga sehabis mengaji anak anak mendapat giliran piket
membersihkan ruangan dan memberi makan kambing.Sekarang giliran si Dul memberi
makan.Tetapi si Dul kesal dengan kambing kambing itu karena pernah ia dibawa
lari keliling kampung ditarik kambing.Ia bergiliran mencari makan bersama Amje
karena jauh dari hutan mereka pum berencana untuk mengambil daun di pekarangan
orang si Dul yang memanjat.Saat si Dul mendapat beberapa ranting si Amje teriak
maling dan ranting itu jatuh kemudian dibawa kabur Amje. Pemilik rumah mengejar
si Dul sambil membawa kayu si Dul merasa takut tetapi ia berasil lolos dan saat
sampai kandang sudah diliatnya ranting yang ia dapat tadi.Enkongnya bertanya
kepada si Dul "Mane daun lu Dul" si Dul Menjawab "tu udah sama
milik Amje",Engkonya memarahinya karena dikirannya si Dul berbohong.Si Dul
bertemu Amje di perjalanannya pulang, si Dul marah kepada Amje karena telah
membohonginya.Mereka berkelai dengan hebat dan si Amje terluka dan pulang
kerumah sedangkan si Dul terkena gigitan Amje di lengannya.Ibu si Dul
mengetahui dan memarahi si Dul sedangkan bapaknya malah menyuruhnya makan dan
berganti baju,akhirnya bapak si Dul bercerita saat dia masih kecil dia sama
seperti si Dul malah lebih parah lagi,dia jawara di kampungnya.Lebaran hampir
tiba si Dul berkata ingin sekolah tetapi bapaknya bilang si Dul anak kampung
yang seharusnya mengaji saja.keesokan harinya Ibu si Dul mendapatkan berita
jika istrinya kecelakaan dan meninggal dunia.
Setelah 7 hari berlalu
kesengsaraan lebih terasa semua barang telah habis terjual dan akhirnya ibu si
Dul memikirkan suatu pekerjaan berjualan nasi ulam si Dul yang berjualan karena
Enkongya melarang wanita keluar rumah untuk bekerja.Lama waktu telah berlalu
kehidupan si Dul mulai membaik, Ibunya pun sudah mempunyai suami baru.Si Dul
juga punya saudara tiri bernama marjuki.Tetapi sesungguhnya engkonya tidak
menyetujuinya, apalagi agama dari lelaki itu tidak jelas.bapak tiri si Dul
berniat menyekolahkan si Dul tetapi tidak boleh sama engkongnya.Anak betawi
tidak perlu sekolah yang penting shalat dan mengaji.Sekolah tidak dibawa mati
tidak ada gunanya.Tetapi sifat engkonya memang seperi itu jika ada kemauan
harus dituruti.Pak lurah mengetahui hal itu kemudian menyuruh Dul bersekolah
dan dia akan bilang kepada engkonya.Keinginan si Dul tercapai,meski tidak
mendapat ijin penuh dari Uak Salim.
Keunggulan novel ini
sangat banyak mengandung amanat yang dapat di ambil dari kehidupan, jadi buku
ini sangat bagus di baca untuk semua kalangan terutama kalangan remaja untuk
membentuk kepribadian diri yang baik.
Kekurangan dari novel
ini adalah pengarang terlalu banyak menggunakan bahasa tradisional sehingga
tidak semua pembaca dapat mengerti maksut penulis tersebut dan banyak
menggunakan kata kasar yang kurang baik untuk di contoh.
Menurut saya novel ini
sangat bagus untuk dibaca karna novel ini banyak mengandung amanat yang patut
di contoh terutama bagi kalangan remaja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar